"Suka ngalong", mungkin itulah sebutan sebagian besar masyarakat di gedung megah itu pada group dimana aku menghabiskan sebagian besar hari-hariku.
Minggu ini, otak lagi encer dan kerjaan semua sesuai target usai sebelum jam 7 malam (sebetulnya gara2 kesehatan kurang bersahabat, jadinya kerja otak makin cepat agar bisa pulang lebih cepat he he ehe). Dan setiap orang yang aku temui, entah di lift, entah di halte bus, entah di jalan, dan semuanya bertanya "kok tumben pulang cepet?"
Sempat heran.... tapi gak heran lagi akhirnya, secara tempatku emang termasuk kloter paling akhir yang suka absen di print finger itu (dan aku salah satunya yg suka absen on the last minute batas absen - 3:30 am). Kalau dikatakan kerjaan banyak, emang kagak ada matinya deh.... kalau dibilang lambat kerja, gak banget sie.... wong seharian semua sibuk muter kaki, muter otak, muter badan (mondar-mandir meeting maksudnya ^^)
But so far... kembali semboyan "work hard play hard" senantiasa mengilhami. Bolehlah kerja keras sampe pagi.... tapi pas lagi jamannya melupakan kerjaan, emang beneran lupa tuh, ampe keringetan terkotos-kotos juga udah gak inget kerjaan sama sekali (ketika jingkrak-jingkrak di gym maksudnya :D )
Semakin hari aku semakin merasa Jakarta semakin unik, dan ibuku pun udah terbiasa juga dengan kehidupan seperti ini (gak suka komplain lagi maksudnya), wong hidup di Bali juga sama aja. Ngalong along the day (6 x 18 jam). Gila juga kan.... jadi intinya business human = hotelier...... ^^
SO, just enjoi intinya.... kalo dipikirin berat entar malah tambah berat kehidupan... kalau semakin dinikmati semakin banyak hal bermanfaat bisa dilakuin... percaya aja deh...... he heheh hee...
Wednesday, November 11, 2009
Sunday, November 08, 2009
Ambisi Ambisius Prestigious Mampus!!
Berambisi boleh, tapi ada batasnya
Menjadi ambisius juga boleh, asal tahu batasnya
Hidup prestigious boleh sekali, asal tahu tempatnya
Mampus jangan sampai, kalau tahu cara menanganinya
Just enjoi!!!
Friday, October 30, 2009
Lika Liku, Suka Duka Interview – Polos!
Cepat sudah waktu berlalu.... tidak terasa hidupku penuh dengan interview. Dan setiap interview pasti ada suka duka senang seru lika liku.... dan cerita unik lainnya. Pertama kali interview kalau tidak salah adalah waktu.... hmmm.... jadi Ketua OSIS kali ya... sekitar 12 tahun silam. Kemudian dilanjutkan dengan interview-interview dengan level lebih “seram” dengan orang yang lebih “seram” dari level to level, SMA, Kuliah, part time, sampai akhirnya bekerja dan berbalik malah menginterview orang lain.
Setelah diamat-amati ternyata unik sekali proses interview itu. Sebagai pihak interviewee, aku bertemu banyak sekali karakter interviewer yang sangat amat beragam. Dari yang aneh ampe yang membuat aku terkagum-kagum, dari yang nyeleneh ampe yang bijaksana sekali.
Selaku interviewer, aku juga bertemu banyak sekali karakter interviewee. Dari yang kreatif ampe yang mati gaya, he he he. Dari yang pinter ngomong ampe yang gak bisa ngomong lagi. Dari yang sangat memukau ampe yang nyeleneh bin aneh. Wao wao wao..... just enjoi! (kalimat penutup selalu terulang)
Setiap posisi yang ditempati, entah selaku interviewee atau interviewer, satu hal yang akhirnya aku dapat adalah harus pintar menempatkan diri. That’s it.
Selaku orang yang diwawancarai hendaknya menghormati sang pewawancara dan tepat waktu, serta memberikan good impression at first sight, juga berbicara sesuai tema to the point (sesuai pesan ibuku bertahun-tahun silam). Polos, mungkin itu satu kata mujarab yang bisa diterapkan. Namun kita harus pintar menjadi “polos”. Polos dalam menjelaskan kemampuan diri sendiri, polos dalam berbicara, polos dalam berpendapat, dan polos dalam menerima saran serta kritik. Ternyata menjadi “polos” tidaklah mudah ^-^
Selaku tukang interview, kadang-kadang kaya tukang tenung dan psikolog. Secara dalam waktu singkat harus memahami isi kepala orang yg diwawancarai, padahal kita baru kenal mereka. Jadi disini seninya yang aku peroleh adalah kepintaran dalam bertanya adalah parameter yang sangat penting. Juga, keberanian dalam memutuskan menerima atau menolak semakin teruji disini.
Apapun yang sudah aku peroleh selama 14 tahun ini, hanya sepenggal dari pelajaran dari bongkahan besar pelajaran yang harus aku pelajari. Ternyata dunia itu beragam dan cepat sekali berubah, namun tetap disana ada sebuah titik yang selalu sama dari waktu ke waktu, “kepolosan”.
Be polos!! ^-^
Setelah diamat-amati ternyata unik sekali proses interview itu. Sebagai pihak interviewee, aku bertemu banyak sekali karakter interviewer yang sangat amat beragam. Dari yang aneh ampe yang membuat aku terkagum-kagum, dari yang nyeleneh ampe yang bijaksana sekali.
Selaku interviewer, aku juga bertemu banyak sekali karakter interviewee. Dari yang kreatif ampe yang mati gaya, he he he. Dari yang pinter ngomong ampe yang gak bisa ngomong lagi. Dari yang sangat memukau ampe yang nyeleneh bin aneh. Wao wao wao..... just enjoi! (kalimat penutup selalu terulang)
Setiap posisi yang ditempati, entah selaku interviewee atau interviewer, satu hal yang akhirnya aku dapat adalah harus pintar menempatkan diri. That’s it.
Selaku orang yang diwawancarai hendaknya menghormati sang pewawancara dan tepat waktu, serta memberikan good impression at first sight, juga berbicara sesuai tema to the point (sesuai pesan ibuku bertahun-tahun silam). Polos, mungkin itu satu kata mujarab yang bisa diterapkan. Namun kita harus pintar menjadi “polos”. Polos dalam menjelaskan kemampuan diri sendiri, polos dalam berbicara, polos dalam berpendapat, dan polos dalam menerima saran serta kritik. Ternyata menjadi “polos” tidaklah mudah ^-^
Selaku tukang interview, kadang-kadang kaya tukang tenung dan psikolog. Secara dalam waktu singkat harus memahami isi kepala orang yg diwawancarai, padahal kita baru kenal mereka. Jadi disini seninya yang aku peroleh adalah kepintaran dalam bertanya adalah parameter yang sangat penting. Juga, keberanian dalam memutuskan menerima atau menolak semakin teruji disini.
Apapun yang sudah aku peroleh selama 14 tahun ini, hanya sepenggal dari pelajaran dari bongkahan besar pelajaran yang harus aku pelajari. Ternyata dunia itu beragam dan cepat sekali berubah, namun tetap disana ada sebuah titik yang selalu sama dari waktu ke waktu, “kepolosan”.
Be polos!! ^-^
Monday, October 26, 2009
More Than a Game
"Makan gaji buta di hari Senin...!!", itulah sebuah kalimat yang nyaris terucap di akhir jam kantor tiba. Bagaimana tidak makan gaji buta, wong setengah hari gak kreatif, mendem, ngantuk ampe mata susah dibuka, meski udah ditunjang pake Moccacino-nya Mas Dika. Kagak mempan Mas..... bisikku lirih, sambil mengusap-usap mata sambil checking blogs.
Ternyata salah satu sobat dunia maya meninggalkan sebuah komen di blog catatanku, dan merujuk ke link lain yang bercerita sama, Pesta Blogger. Tak menarik... kurang menarik pikirku, krn ada hal lain yang lebih memikat mataku, yaitu sebuah kalimat "More Than A Game" Wajib Ditonton Anak Bangsa!!!
Berusaha mencari info yang tidak membuahkan hasil dari para tetangga tentang kisah dalam film "More Than A Game", akhirnya akupun memutuskan untuk nomat alias nonton hemat di Grand Indonesia. Karena film itu hanya diputar di blitzmegaplex.
Sebelum jam kantor usai, short conversation di aulait cafe sambil ditemani secangkir Honey Coffee yang ternyata nikmat sekali berhasil membuat otakku bekerja dan bekerja lagi. Pembicaraan yang terlihat santai dengan tema serius membawa memoriku berkelana 1,5 tahun silam, ketika seseorang menantangku "Putu, if you could control all the entities, than u are the winner!". Till now I'm still looking for the meaning of that sentence, and I always have question "how to?" But both of us agreed that there must be a way to find the answer of the question. Thanks Mr.Goh :)
Experience is the best teacher stil be my slogan till now, dan hari ini aku belajar sesuatu mengenai tugas dan kewajiban serta pentingnya pengalaman yang membuat kalimat "makan gaji buta" terhapus dari pemikiranku. I got something today, n I've finished my target at last (before 5 o'clock). Then... cita-cita nomat pun terealisasi.
More Than A Game, memang pas banget aku rasa, dengan diriku sendiri. Not only for the basket ball, but for all things I've met in this life. Audio luas yang hanya dinikmati oleh 6-7 orang penonton tidak mengurangi kenikmatanku menikmati cerita dokumenter tentang club basket itu. So nice...!! kesan pertama dan terakhirku. Bagaimana suka duka hidup dalam berjuang di arena pertandingan, bagaimana menjadi pelatih dengan beban moral untuk mensukseskan anak-anak didik, bagaimana kerjasama menjadi modal yang tak bisa ditawar lagi.
Hidup dari kecil bersama teman dalam nuansa kompetisi memang memberi pelajaran dan warna tersendiri bagi hidupku. Fairness dan bertanggung jawab atas setiap keputusan yang diambil merupakan pola hidup yang harus selalu dipegang, krn itulah pelajaran yg aku terima sejak pertama kali mengenal pelajaran. Faced the broken dream and disappointment menjadi bunga-bunga yang membuatku merenung dan terus belajar tentang the meaning of my existances. Change the direction, itu pula hal yang membuat hati selalu dag dig dug... cause I've never know what's the next? Diremehkan, dipuji, diledekin, dicuekin, disayangi, semuanya adalah hal lumrah yang selalu datang kapan saja. Ketika mereka senang, mereka akan tersenyum dan menyanjung. Ketika mereka merasa kurang cocok, mereka akan mengkritik dan berbicara aneh-aneh. ya... itulah dunia yang harus aku hadapi, but never mind... it just a matter of life style. Dalam "More Than A Game" juga diceritakan hal serupa.
And.... do not forget the number 23 (my absence number in two eight he hehe e). It's the back number of James Lebron -- King James :)
-Putu-
Ternyata salah satu sobat dunia maya meninggalkan sebuah komen di blog catatanku, dan merujuk ke link lain yang bercerita sama, Pesta Blogger. Tak menarik... kurang menarik pikirku, krn ada hal lain yang lebih memikat mataku, yaitu sebuah kalimat "More Than A Game" Wajib Ditonton Anak Bangsa!!!
Berusaha mencari info yang tidak membuahkan hasil dari para tetangga tentang kisah dalam film "More Than A Game", akhirnya akupun memutuskan untuk nomat alias nonton hemat di Grand Indonesia. Karena film itu hanya diputar di blitzmegaplex.
Sebelum jam kantor usai, short conversation di aulait cafe sambil ditemani secangkir Honey Coffee yang ternyata nikmat sekali berhasil membuat otakku bekerja dan bekerja lagi. Pembicaraan yang terlihat santai dengan tema serius membawa memoriku berkelana 1,5 tahun silam, ketika seseorang menantangku "Putu, if you could control all the entities, than u are the winner!". Till now I'm still looking for the meaning of that sentence, and I always have question "how to?" But both of us agreed that there must be a way to find the answer of the question. Thanks Mr.Goh :)
Experience is the best teacher stil be my slogan till now, dan hari ini aku belajar sesuatu mengenai tugas dan kewajiban serta pentingnya pengalaman yang membuat kalimat "makan gaji buta" terhapus dari pemikiranku. I got something today, n I've finished my target at last (before 5 o'clock). Then... cita-cita nomat pun terealisasi.
More Than A Game, memang pas banget aku rasa, dengan diriku sendiri. Not only for the basket ball, but for all things I've met in this life. Audio luas yang hanya dinikmati oleh 6-7 orang penonton tidak mengurangi kenikmatanku menikmati cerita dokumenter tentang club basket itu. So nice...!! kesan pertama dan terakhirku. Bagaimana suka duka hidup dalam berjuang di arena pertandingan, bagaimana menjadi pelatih dengan beban moral untuk mensukseskan anak-anak didik, bagaimana kerjasama menjadi modal yang tak bisa ditawar lagi.
Hidup dari kecil bersama teman dalam nuansa kompetisi memang memberi pelajaran dan warna tersendiri bagi hidupku. Fairness dan bertanggung jawab atas setiap keputusan yang diambil merupakan pola hidup yang harus selalu dipegang, krn itulah pelajaran yg aku terima sejak pertama kali mengenal pelajaran. Faced the broken dream and disappointment menjadi bunga-bunga yang membuatku merenung dan terus belajar tentang the meaning of my existances. Change the direction, itu pula hal yang membuat hati selalu dag dig dug... cause I've never know what's the next? Diremehkan, dipuji, diledekin, dicuekin, disayangi, semuanya adalah hal lumrah yang selalu datang kapan saja. Ketika mereka senang, mereka akan tersenyum dan menyanjung. Ketika mereka merasa kurang cocok, mereka akan mengkritik dan berbicara aneh-aneh. ya... itulah dunia yang harus aku hadapi, but never mind... it just a matter of life style. Dalam "More Than A Game" juga diceritakan hal serupa.
And.... do not forget the number 23 (my absence number in two eight he hehe e). It's the back number of James Lebron -- King James :)
-Putu-
Thursday, October 22, 2009
The One You Love – Glenn Frey
Judul itu adalah judul sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Glenn Frey. Sangat memorial lagu ini. Awalnya bukan karena liriknya, tapi karena musiknya, Indah sekali…. 3.5 thn yang lalu selalu menjadi teman tidurku, sometimes lagu ini mengalun dari sebuah cafĂ© ketika aku berjalan di depannya, di bawah pohon sakura. So nice….
Sempat aku kehilangan lagu ini, sampai akhirnya ada teman kantor memberikan koleksi lagu jazz, dan disanalah aku menemukannya kembali ^^
Berikut adalah liriknya, lumayan OK ::
I know you need a friend, someone you can talk to
Who will understand what you're going through
When it comes to love, there's no easy answer
Only you can say what you're gonna do
I heard you on the phone, you took his number
Said you weren't alone, but you'd call him soon
Isn't he the guy, the guy who left you cryin'?
Isn't he the one who made you blue?
When you remember those nights in his arms
You know you gotta make up your mind
Are you gonna stay with the one who loves you
Or are you goin' back to the one you love?
Someone's gonna cry when they know they've lost you
Someone's gonna thank the stars above
What you gonna say when he comes over?
There's no easy way to see this through
All the broken dreams, all the disappointment
Oh girl, what you gonna do?
Your heart keeps sayin' it's just not fair
But still you gotta make up your mind
Are you gonna stay with the one who loves you
Or are you goin' back to the one you love?
Someone's gonna cry when they know they've lost you
Someone's gonna thank the stars above
Malam ini di kantor yang masih tetep ruame, ketika otakku blentek karena error blm terpecahkan, kembali lagu itu berhasil menghibur dan merelekskan syarat otakku yang mulai njelimet.
Lagu itu selalu Indah bagiku, meski sometimes membangkitkan banyak cerita, entah cerita diri sendiri, orang lain, atau yang lainnya. But in the end…. lagu tetaplah merupakan salah satu karya terindah di dunia ini.
-Putu-
Sempat aku kehilangan lagu ini, sampai akhirnya ada teman kantor memberikan koleksi lagu jazz, dan disanalah aku menemukannya kembali ^^
Berikut adalah liriknya, lumayan OK ::
I know you need a friend, someone you can talk to
Who will understand what you're going through
When it comes to love, there's no easy answer
Only you can say what you're gonna do
I heard you on the phone, you took his number
Said you weren't alone, but you'd call him soon
Isn't he the guy, the guy who left you cryin'?
Isn't he the one who made you blue?
When you remember those nights in his arms
You know you gotta make up your mind
Are you gonna stay with the one who loves you
Or are you goin' back to the one you love?
Someone's gonna cry when they know they've lost you
Someone's gonna thank the stars above
What you gonna say when he comes over?
There's no easy way to see this through
All the broken dreams, all the disappointment
Oh girl, what you gonna do?
Your heart keeps sayin' it's just not fair
But still you gotta make up your mind
Are you gonna stay with the one who loves you
Or are you goin' back to the one you love?
Someone's gonna cry when they know they've lost you
Someone's gonna thank the stars above
Malam ini di kantor yang masih tetep ruame, ketika otakku blentek karena error blm terpecahkan, kembali lagu itu berhasil menghibur dan merelekskan syarat otakku yang mulai njelimet.
Lagu itu selalu Indah bagiku, meski sometimes membangkitkan banyak cerita, entah cerita diri sendiri, orang lain, atau yang lainnya. But in the end…. lagu tetaplah merupakan salah satu karya terindah di dunia ini.
-Putu-
Monday, October 19, 2009
namanya Lucky "jazzy"
Pagi ini, ketika di kepala terngiang-ngiang sebuah lagu yang ber-genre jazz, aku hanya teringat pertama kali aku ngeh akan musik jazz, dan belajar mendengarkannya, serta belajar menyukainya.
Malam itu di salah satu pojok kota Jakarta terdengar suara musik mengalun. Indah setelah ditelaah, membuatku ngantuk... kesan pertamaku. Disanalah, di sebuah kos-kosan di daerah Jalan Jaksa sang seniman memutar musik kesukaannya, jazz.!.
Namanya Lucky, aku sering menyebutnya Lucky Bali atau Lucky Jazzy, karena dia besar di Bali dan mencintai musik Jazz. Entahlah nama sesungguhnya siapa, krn aku tak pernah bertanya.
Malam yang sepi dan sendiri, karena lingkungan sekitar yang tidak familiar dengan orang-orang di sekitarnya, membuat buku menjadi tempat pelarianku. Sampai akhirnya seseorang ngetok pintu and say "hi...", ya dialah Lucky, tetangga sebelah kamar yang kelaparan di tengah malam. Sebetulnya akupun lapar waktu itu. Sehingga pas sudah, malam perburuan kacang rebus dimulai. Dan saat itu kami pun sangat mencintai Jalan Jaksa. Karena di tengah malam masih banyak dagang makanan yang buka.... he he he
Sambil menikmati berbungkus-bungkus kacang rebus, kembali terdengar alunan musik lembut nan lambat, jazzy.... Diapun menjelaskan panjang lebar tentang musik jazz, dan akupun menyimaknya, meski aku masih tertatih-tatih memahaminya. Dia, seorang pemain drum untuk jazz, sering tampil juga di acara-acara TV. Gak heran koleksinya berjubel di kamar kecil itu. Mulai saat itulah aku belajar menikmati musik jazz, yang ternyata sangat indah. Thanks pal...!!
dimanakah sekarang Lucky... secara pindah kos ama sang ayah gak bilang-bilang....
goodluck aja deh... dimanapun berada.... n hv a great days...
-putu-
Malam itu di salah satu pojok kota Jakarta terdengar suara musik mengalun. Indah setelah ditelaah, membuatku ngantuk... kesan pertamaku. Disanalah, di sebuah kos-kosan di daerah Jalan Jaksa sang seniman memutar musik kesukaannya, jazz.!.
Namanya Lucky, aku sering menyebutnya Lucky Bali atau Lucky Jazzy, karena dia besar di Bali dan mencintai musik Jazz. Entahlah nama sesungguhnya siapa, krn aku tak pernah bertanya.
Malam yang sepi dan sendiri, karena lingkungan sekitar yang tidak familiar dengan orang-orang di sekitarnya, membuat buku menjadi tempat pelarianku. Sampai akhirnya seseorang ngetok pintu and say "hi...", ya dialah Lucky, tetangga sebelah kamar yang kelaparan di tengah malam. Sebetulnya akupun lapar waktu itu. Sehingga pas sudah, malam perburuan kacang rebus dimulai. Dan saat itu kami pun sangat mencintai Jalan Jaksa. Karena di tengah malam masih banyak dagang makanan yang buka.... he he he
Sambil menikmati berbungkus-bungkus kacang rebus, kembali terdengar alunan musik lembut nan lambat, jazzy.... Diapun menjelaskan panjang lebar tentang musik jazz, dan akupun menyimaknya, meski aku masih tertatih-tatih memahaminya. Dia, seorang pemain drum untuk jazz, sering tampil juga di acara-acara TV. Gak heran koleksinya berjubel di kamar kecil itu. Mulai saat itulah aku belajar menikmati musik jazz, yang ternyata sangat indah. Thanks pal...!!
dimanakah sekarang Lucky... secara pindah kos ama sang ayah gak bilang-bilang....
goodluck aja deh... dimanapun berada.... n hv a great days...
-putu-
Friday, October 16, 2009
Dunia ini memang Kejam..!!!
“Dunia ini memang kejam..!!”, tanpa sengaja kalimat itu mengalir ketika dia keluar dari mobil mewahnya sore itu. Sempat beberapa wajah terlihat kaget dan tegang, namun mereka tidak berani berkomentar. Dia mungkin kesal dan sudah tidak “rela” lagi untuk menahan semuanya seorang diri. Memang dia orang yang sangat regar dan kuat serta sabar, namun ketika permainan sudah tidak “nyaman” lagi, semuanya menjadi buyar dan reduplah cahaya kesabaran di hatinya.
Ketika melirik diri sendiri, aku terdiam dan berpikir, akankah bolehkah aku mengucapkan hal serupa. Mengingat aku sudah melupakan, berusaha melupakan, tidak menganggap kejam semua hal yang terlihat kejam itu. Sebetulnya sah sah saja dan boleh boleh saja... tidak ada yang melarang.
Setiap detik dunia selalu menunjukkan kekejamannya, setiap detik pula dia selalu menunjukkan kasih sayangnya. Krn sebetulnya kejam dan sayang itu beda tipis. Hanya kita yang menerimanya saja yang bisa menilai, apakah hal itu kejam atau tanda sayang.
Be grateful for this life... even it’s not cool.!.
Ketika melirik diri sendiri, aku terdiam dan berpikir, akankah bolehkah aku mengucapkan hal serupa. Mengingat aku sudah melupakan, berusaha melupakan, tidak menganggap kejam semua hal yang terlihat kejam itu. Sebetulnya sah sah saja dan boleh boleh saja... tidak ada yang melarang.
Setiap detik dunia selalu menunjukkan kekejamannya, setiap detik pula dia selalu menunjukkan kasih sayangnya. Krn sebetulnya kejam dan sayang itu beda tipis. Hanya kita yang menerimanya saja yang bisa menilai, apakah hal itu kejam atau tanda sayang.
Be grateful for this life... even it’s not cool.!.
Subscribe to:
Posts (Atom)


