Friday, February 06, 2009

Ketika aku ingin Berkata

Setelah sekian lama aku seperti terlihat "kabur" dari alam tulis menulis, malam ini mungkin waktu saat aku ingin mengembalikan semua itu.

Ketika orang berkata "sibuk sekali Putu... jadi tidak ada waktu menulis" atau "belum ada ide, lagi gak mood neh untuk nulis". Dan aku selalu nyaut "kenapa kesibukan selalu jadi alasan?" atau "sepertinya gak perlu mood deh".

Namun ketika ada suatu masa dimana aku ter-kerangkeng oleh situasi, dimana aku merasa otakku terasa tidak punya celah guna berpikir mengenai hal selain satu hal yang disebut pekerjaan, keinginan untuk terbang jauh meninggalkan semuanya mulai bermunculan. Tapi... betul kata seseorang bahwa manusia sangat pintar karena dibekali otak untuk berpikir agar bisa survive. Selanjutnya aku mulai ngeh, bahwa mungkin diriku di kala itu adalah cermin dari orang-orang yang tidak punya waktu mengurusi hal lain selain pekerjaan.

Kerjaan kata orang adalah sebuah hal yang patut dilaksanakan, krn itu adalah salah satu "yadnya". Namun, kembali lagi bagaimana cara melaksanakannya. Ketidakikhlasan bukanlah dasar yang tepat dalam melakukan sesuatu. Lebih baik tidak mengerjakan daripada setengah-setengah.

Kegemaran dan kewajiban merupakan temanku yang paling setia dari semenjak aku dilahirkan ke dunia ini. Ketika ibu menunjukkan list kewajiban yang harus aku tuntaskan, aku selalu melirik list hobby-ku yang sudah mengantri untuk disatroni. Seperti pendapatnya Rhenald Kasali, "Putu, selayaknya orang Bali, kamu selalu berpikir mengenai keseimbangan". Betul sekali kalau keseimbangan menurutku adalah yang utama. Cuman, mencapai keseimbangan tidaklah mudah. Belajar sesuai jadwal dengan menyelesaikan semua PR dan tugas-tugas selain pelajaran sekolah, juga melaksanakan hobby sendiri, memang membutuhkan kreatifitas dan semangat :)

Tatkala semangat mulai redup, kreatifitas mulai luntur, dan kejenuhan memenuhi kepala, akhirnya mulai remang-remang bayangan kegagalan bermunculan. Gagal melaksanakan kewajiban, tidak menunaikan hobby/kesenangan, membuat orang kecewa, dan bayangan semu lainnya. Cuman satu obatnya yaitu lari dari semua kehidupan itu dan merenung sejenak mengenai "makna kita dilahirkan ke dunia ini". Aku merasa bersyukur ketika di bulan Januari aku bertemu orang-orang yang membuat jiwaku tercerahkan. Seseorang yang tiba-tiba ngasi minjem sebuah buku "Destiny of Soul", kemudian di sebuah pura aku berhasil ngopi darat dengan seorang sesepuh muda yang sangat bijak,berjiwa sosial dan universal, terus dapat kesempatan diskusi dengan bapak yang merupakan inspirator yg begitu berpengaruh dalam kehidupanku.

Dalam dunia "material" aku juga menemukan sosok yang awalnya aku hanya mengenal "punggungnya". Cukup unik proses mengenal seseorang ini. Karena setiap dia lewat di depanku aku nggak ngeh akan wajahnya, dan aku baru nyadar ketika dia sudah membelakangiku. Alhasil aku hanya kebagian melihat punggungnya. Tapi akhirnya aku mengetahui pelan-pelan dan ternyata bapak ini adalah sosok yg sangat keren menurutku. Contoh yang sangat patut ditiru. (mohon maaf nama tidak disebutkan ^^ )

Ternyata kehidupan begitu berwarna, tidak hanya MeJiKuHiBiNiU, tapi juga percampuran warna-warna itu :)

Bersemangatlah, semoga pikiran positif selalu datang dari segala arah, sehingga kreatifitas yg baik selalu melimpah ^^

1 comment:

Henry Hongdoyo said...

Iya put... udah lama banget blog-nya nggak ke-update. Jadi merasa iba kalau hobby harus ter-halang2i dengan kerjaan yang menumpuk... ugh...