Sunday, April 04, 2010

Jangan Berubah

Malam ini, sembari mengutak-atik soal statistik, tangan merogoh notepad, berharap ada sesuatu yg menginspirasi dalam kotak surat. Ternyata betul ada, yaitu sebuah artikel berjudul "Jangan Berubah" yang diposting oleh Ajik Ngurah.

Setelah dibaca, inspiratif sekali. Ingatan kembali ke masa silam dimana ada kata di telingan menyelinap "kamu telah berubah", dan kalimat simple itu seperti sambaran petir yang membuatku merenung panjang. Sembari berpetualang menemukan makna kalimat itu, tanpa aku sadari kalimat simple lainnya kembali menyelinap "kami bisa memahamimu", wao.... seperti siraman air sejuk dikala panas rasanya.

Setelah perjalanan panjang, aku pelan-pelan memahami makna kalimat itu. Aku menemukan alasan, kenapa kalimat pertama terucap, dan kenapa kalimat kedua-pun diucapkan. Aku akan kembali, berubah lagi dari sesuatu yang telah berubah. Memahami orang yang telah memahami. Dan kembali menjadi sesuatu yang tidak berubah, dan hal itu bisa dilaksanakan ketika aku menemukan inti dari semua itu.

Janganlah berubah, krn apapun yang terjadi kamu tetaplah kamu dan saya tetaplah saya. Oleh karena itu, carilah siapa dirimu, seorang diri yang tak akan berubah, meski terkadang terlihat berubah, berubah secara kasat mata untuk sesuatu yg baik.

Hv a good day dan bersemangatlah.

Tuesday, March 30, 2010

Ber-tameng

Kilasan malam ini bercerita sedikit tentang runtuhnya sebuah tameng. Tameng dengan segala merek.

Dalam setumpuk sampah di tengah hutan itu ada sebuah palu, palu yg diperoleh dari mengais-ngais gundukan sampah yg familiar itu. Dengan gagah perkasa lalu memukulkan palu itu ke tameng bermerek. Prang pecah.... ya pecah.... aku gak bertameng lagi.

Ketika keluar dari gudang sampah itu, diliriklah tameng yang pecah berserakan itu. tameng emas ke perak-perakan berlapis perunggu berlabel baja. Keren sekali palu itu, pikirnya. Padahal palu itu kecil dan hanya sebatang intan di ujungnya. Berhasil juga dia memporak porandakan tameng tebal itu.

Ketika tameng tak ada lagi, berjalanlah tanpa sebuah penutup, dan terlihatlah dengan jelasnya, siapakah itu.... tameng dengan segala label itulah yg selalu menemaninya, selalu melindunginya, dan membiarkannya mendekap dan menutup semua celah... celah semutpun berhasil dihalaunya.

Di padang rumput, beberapa puluh langkah dari hutan itu, berdirilah dan menatapi langit, sambil berkata "langit, engkau sekarang tamengku, just do what u wanna do, cause i really care or i do really don't care. then, just do it.!."
Langitpun menatapnya dengan ramah sambil berucap "aku tdk sekejam tamengmu itu, tameng yg kamu selalu banggakan". "Langit, terimakasih banyak," balasnya.

Tameng itu ternyata sudah tak perlu lagi, dan memang dari dahulu kala tak perlu, karena selama itu pulalah langit tak akan tampak semestinya. Just do it.!.

-Putu-

Sunday, March 21, 2010

Benar, Salah

Kilasan tengah malam kali ini adalah mengenai Benar dan Salah. Sangat relatif ketika kita mengatakan sesuatu itu benar atau salah. Tergantung dari sisi mana kita memandang, dan mungkin tergantung dari kepentingan kita akan sesuatu.

Sebagai manusia, untungnya kita dibekali pikiran dan perasaan, sehingga ketika logika nge-blank, masih bisa pakai perasaan, vise versa. Untuk para penggemar ”feeling usage”, alias prefer menggunakan feeling, mungkin logika selalu bisa dikesampingkan. Sama halnya dengan para penggemar “logic usage”, jarang sekali memperhatikan kata hatinya – pokoknya yg bener itu yang sesuai logika.

Kata orang bijak, feeling n logic harus balance, dan aku setuju sekali akan hal itu, secara based on experiences, logic-ku pernah benar, pernah salah, atau perasaanku pernah salah, pernah benar. Sehingga berjibaku juga mempelajarinya, kenapa itu bisa salah, ini bisa benar. Yah... itulah pelajaran hidup yang selalu membuatku lebih bersemangat menjalani hari, at least masih ada yg ditanyakan dalam kehidupan ini. Kenapa? Meski sesuangguhnya tak perlu lagi bertanya apa-apa, cause everything is there.!.

Seiring dengan proses berjibakunya mempelajari setiap “ion” beterbangan yang singgah, akhirnya terambillah keputusan bahwa tidak boleh mengesampingkan logika dan perasaan. Karena semuanya pada dasarnya saling mendukung. Ketika perasaan not feeling well, berhenti sejenak untuk review logika yang masih berkata “it’s good, just do it”. Begitu pula sebaliknya, ketika feeling said “OK”, berhenti sejenak untuk me-logika-kannya agar si logic yang awalnya gak setuju punya pegangan – meski “sedikit”.

Berpikir, analyzing tentang hal-hal kaya gini mungkin dirasa wasting time bagi sebagian orang yang menganggap hal ini malah “memperumit masalah”, atau menganggap orang lain “plin plan”, atau apalah lainnya….. tapi sesungguhnya adalah karena mereka tidak ingin menyakiti perasaan atau logika mereka sendiri…. There still something mismatch between the feeling n logic, and it takes time to find the answer of why. Waktu memang selalu akan memberikan jawaban…. Whatever it is.!.

So, stand up for the inner feeling and logic, krn bagiku merekalah temanku dalam setiap pengambilan keputusan guna menjalani kehidupan ini.


-Putu-

Saturday, March 20, 2010

Pengelana

Ada seorang pengelana berjalan menyusuri jalan setapak yang melintasi sebuah perkampungan dengan beragam penduduk. Sang pengelana itu menuju sebuah tempat yang jauh sekali. Dia berangkat tanpa membawa bekal makanan, karena dia yakin alam akan menyediakan begitu banyaknya makanan sehingga dia tak perlu khawatir akan semua itu. Namun dia membawa banyak hal yang orang lain butuhkan, yang mana mungkin dirinya sendiri sudah tidak membutuhkannya lagi.

Ketika melintasi kampung tersebut, banyak orang yang memanggilnya dan menawarkan makanan, atau sekedar air putih untuk membunuh dahaga. Tetapi dengan senyum ramah dia menolaknya karena dia sedang berpuasa. Sampai ketika dia merasa waktunya tiba untuk berbuka puasa, dan di ujung jalan ada sebuah rumah dilihatnya. Sang empunya rumah melihat sang pengelana melangkah, dan diapun memanggil pengelana tersebut. Kebetulan dia baru usai memasak, sehingga dengan senyum ramah mengajak sang pengelana mampir guna mencicipi hasil masakannya yang menurut sang pengelana sangat enak. Ketika mereka asik bercerita tentang suasana desa, tiba-tiba suami sang empunya rumah datang dan dengan marah-marah mengusir sang pengelana. Sang pengelana-pun kaget dan tidak tahu kenapa dia diperlakukan seperti itu. Dan diapun beranjak dari tempat duduknya, kemudian memohon ijin pada sang pengundang untuk pamit meneruskan perjalan. Sang pengundang memohon maaf atas semuanya sambil berusaha menahan pengelana untuk tetap tinggal. Sang pengelana hanya tersenyum sambil berkata “tidak apa-apa, terimakasih untuk makanannya yang sangat nikmat. Saya harus melanjutkan perjalanan saya”.

Sang pengelana keluar dari halaman rumah yang rindang itu, dan meneruskan perjalanannya sambil mendendangkan lagu-lagu menyapa alam yang dengan setia menemaninya dengan tulus ikhlas.

Sang pengelana selalu bebas, meski terkadang dia ingin mampir untuk waktu yang cukup lama di sebuah tempat, karena terkadang dia merasa kelelahan atau dia harus bercerita sesuatu pada orang yang membutuhkannya. Dia akan benar-benar berhenti ketika dia sudah mencapai tujuannya, yaitu rumah dia sesungguhnya di ujung jauh sana.

-Putu-

Thursday, March 18, 2010

Tough Day ??.!.

Spent the holidays at home with family is the most lovely moment for me :)

Ya, itulah kegiatan selama 6 hari ini, menghabiskan waktu liburan Nyepi bersama keluarga tercinta, dan berusaha untuk tak mengingat "kekacauan" dunia luar, entah di kantor atau di tempat manapun jua. Dan... hari ini adalah the last day at home, alias hari pertama kembali ke daratan kota metropolis.

Hari ini adalah ujian mid term di PPM, dan tentu aku cemas-cemas dikit, plus gambling, plus take the risk. Niat awalnya adalah mencari tiket murah, namun berani aja ambil risiko gambling nyaris tak ikut ujian. Ketika konfirmasi ke sang dosen, beliau menjelaskan bahwa tidak ada ujian susulan kalau tidak ikut ujian, alhasil deh semua jurus dan doa dikeluarkan -- agar tiba di Jakarta on time. Dan intinya adalah aku tiba di PPM sore ini jam 18:55 (setelah berlari-lari dan maksa tukang ojek agar meluncur secepat mungkin), kemudian jurus makan cepatpun dikeluarkan... was wus srup surp... ahh kenyang.......... :D

Waktu di jalanan tadi sore, jalanan macet banget. Aku pesen sama pak sopir taxi "Pak, saya mau tidur dulu. Nanti kalau sudah menjelang tiba bangunin saya ya. Tapi tolong agar sampai Sarinah jam 18:30". "Iya Mbak", jawab pak sopir ganteng itu. Akupun mendengarkan musik relaksasi, yang mampu membuatku terbang ke level teta (going to be delta) selama 1 jam. Ketika terbangun, akupun tolah-toleh, hah dimana neh.... ternyata aku masih di Grogol sodara-sodara.... macetnya ruar biasa... dan semua jurus mind powering-pun dikeluarkan.... dan dengan dibantu kelihaian pak sopir dan menyalip kendaraan di depannya... jadi deh aku berhasil tiba di Sarinah jam 18:40 (gapapa telat 10 menit dari rencana). Jurus langkah cepatpun dikeluarkan sambil berkeringat dan jurus nafas langkah cepat secara otomatis ter-set = on. Ketika ketemu tukang ojek, semua carapun dia lakukan, mulai dari menerobos trotoar berlawanan arah, sampai meliak-liuk di tengah para mobil mewah. Tapi sempet2nya coba si tukang ojek angkat HP.... mas-mas... piye toh sampaian. Kalo nyosor got piye nanti??!!!

Soal ujiannya seru, karena ada satu soal yang diluar praduga dan prasangka. Tapi untung open book. Lumayan kelihaian menilik apendix terbangunkan dengan cepat. Dan lumayan.... wish for the best result he heh e.

Yah, ketika orang sibuk mendiskusikan soal-soal itu, akupun ngacir pulang.... secara gitu loh... tepar juga setelah seharian meniti kota Denpasar - Jakarta.

Hari ini aku ingin sekali berterimakasih pada:
1. Pak sopir taxi Ubung - Renon, atas valuable advices
2. Pak Sopir taxi Cengkareng - Sarinah, keren nyetirnya di tengah macet... adem tenang, tapi action
3. Mas tukang ojek Sarinah - PPM, meski rada sangar... keren tuh motornya (kata dia "untuk mbak, saya kasi motor baru neh...")
4. Yang pasti adalah Beliau-Beliau yang selalu menemaniku :)


Kata film Precious, Life is hard, Life is painful, Life is short, Life is rich. Aku tambahin ya... Life is wonderful, Life is mysterious, Life is amazing, Life is blessing, Life is happiness, Life is misery, Life is thing that worth to be done well!!



-Putu-

Sunday, March 14, 2010

Kehilangan

Tengah malam kali ini, sembari menulis summary, ternyata film yang menemaniku berjudul “Postman”. Good enough. Salah satu adegan, yaitu ketika sang keledai kesayangan dijadikan daging makan siang oleh sang penguasa, dan sang tuan begitu terpukul sampai tak niat makan, sedih... begitulah gambaran perasaan kehilangan itu; jadi mengingatkanku akan perjalanan kehidupanku selama ini. Banyak sekali kehilangan kalau mau dihitung-hitung, meski juga aku menemukan banyak hal baru dibalik semua itu. Intinya sih masih balance antara yang “in” and “out”.

Waktu kecil, aku sering meneteskan air mata karena tupaiku mati, atau burung pipitku wafat, juga ketika ikan atau anjingku meninggal dunia. Hanya bisa diam tertegun memandangi tubuh tak bernyawa itu, sambil bergumam “semoga kamu bahagia disana ya.!.”

Setelah mulai tumbuh dan pergi meninggalkan kampung halaman, perasaan kehilangan semakin menjadi-jadi, namun dibalik semua perasaan dan tetesan air mata itu, ada setitik pencerahan dimana selalu mengingatkan bahwa aku tidak perlu merasakan semua itu, karena aku sesungguhnya tidak memiliki apa-apa. Ketika anjingku yang sekaligus jadi sobatku lenyap, akupun hanya tahu dia akan selalu menemaniku meski tak terlihat kasat mata. Meski orang2 yang aku cintai tak ada di dekatku, aku tahu mereka selalu ada di ranah dan alamnya masing-masing. Semuanya still there as it is. Tak ada yang hilang sesungguhnya. Namun, aku masih manusia yang memiliki saraf yang mampu meneteskan air mata, dan saraf sensitif yang bereaksi ketika aku merasa ada yang hilang, sehingga sampai hari ini aku masih termenung ketika anjing tak bersalah dibunuh ketika dia tak mau di vaksin, aku masih termenung ketika aku mendapat kesempatan dan lenyap di depan mata, aku masih termenung ketika mereka tiba-tiba pergi tanpa hal yang jelas, aku masih termenung akan misteriusnya kehidupan ini.... ........... .......... yah, itu hanyalah pemikiranku yang sesungguhnya harus aku renungkan “kenapa aku masih termenung akan hal itu”.

Sebelum bisa menghargai sesuatu, perasaan kehilangan memang harus dilakoni. Karena semuanya itu adalah process of acceptance.

Kira-kira demikian kilasan tengah malam kali ini.... every single thing is still there... as it is.!.

-Putu-

Friday, February 26, 2010

"Bersayap"

kata atau kalimat "bersayap", atau dalam bahasa Bali disebut "mebungkling" alias tertutupi selimut, dalam arti harfiah bisa diartikan sebagai kata-kata atau kalimat yang dengan makna terselubung.

Ada satu orang berkata bahwa makna dari kalimat "mebungkling" itu sudah ada disana, dan sudah sangat terlihat dengan sangat jelas. So... apa yang musti dicari-cari lagi? wong sudah ada disana jawabannya alias tak ada istilah "mebungkling" seharusnya.

Hari ini aku sekilas ide melesat dalam benak terkait dengan hal ini. Contoh misalnya ada orang mengatakan "saya tidak boleh masuk pura", ternyata ada yang bertanya lagi dengan wajah heran "lho kenapa? ada apa?". Kalau dikupas, akan ada banyak sekali alasan kenapa seseorang tidak boleh masuk pura.... namun, kalo kita melihat dengan kacamata ideal... orang tidak masuk pura karena "cuntaka" alias kotor, baik krn datang bulan atau baru ada kematian. Udah titik sampai disana.

Contoh lain adalah ketika aku misalnya tidak mengambil lauk ketika disuguhi hidangan. Kalau dari kacamata ideal, aku tidak akan ambil makanan karena memang aku tidak akan memakannya. Udah sampai disitu aja...! tidak usah ditanya lagi, apakah aku vegetarian atau aku tidak suka atau makanannya tidak enak.

hmmm.... namun semua itu susah-susah gampang, apalagi ketika kegemaran menganalisa begitu berkembang dalam otak, otakku misalnya. Tapi, itu hanya utk kasus kantor bolehlah, dan beberapa kasus kehidupan yang membutuhkannya. Krn dengan pesatnya perkembangan otak sisi analyst, secara tidak langsung otomatis akan mencari penyebab sebuah permasalahan in detail, padahal sesungguhnya in general saja sudah cukup.!. jadi posisinya harusnya sudah bergeser dari analyst ke direktur... ^-^

Tapi inti dari semua ini aku ringkas: let see everything as it is.
Orang tidak akan makan sesuatu krn mereka tidak memakannya, orang tidak akan makan kalau tidak lapar, orang akan marah jika ada yang membuatnya kesal, orang akan nangis kalau ada yang melukai hatinya, orang akan tertawa kalau ada yg membuatnya bahagia, orang akan menyendiri karena ingin sendiri, orang akan bersembunyi karena ingin closed connection, orang akan menulis karena ada yg ingin ditulis, orang akan bicara karena ada yang hendak diucapkan, orang bekerja karena ada hal yg bisa dikerjakannya, orang diam karena tidak ada yg perlu disampaikan, dll....

Jadi tidak perlu ada pertanyaan "kenapa?" dan tidak ada lagi kalimat "bersayap" alias "mebungkling", dan pemikirin analyst bisa dibuang sejenak.!.

Hv a great weekend world............!!!

-Putu-

Tuesday, February 09, 2010

Devotions

These past few weeks I do really like to work late in the office, then using my spare time to read some books, whatever... one of them is about devotions... 90 devotions to improving your life every day.!.

And tonight I found some "nice" sentences which quite fit with my life these days, here they are:
1. God has the final say: quit listening to what the naysayers are telling you, and stop living to please people. Shake that off and keep pressing forward in life.
2. Handling the slingers (the way to thanks to God): Lord, thank You for the reminder that I can "shake it off"." I don't have to carry negativity or criticism with me but can leave it behind in Your capable hands.
3. Fly like an eagle: those who trust in the Lord will find new strength. They will soar high on wings like eagles. They will run and not grow weary. They will walk and not faint.
4. Step into your divine destiny: I'm eager to discover the destiny You have in mind for me. help me pay attention to the dreams and desires You've given me.
5. The power of your bloodline: thank You, Lord, for Your seed in my life. However others may see me, I'm choosing to see myself as You see me -- already in the Winner's Circle You prepared for me.

that's enough :)

just enjoy .!.

Monday, February 08, 2010

Warna Kehidupan

Perjalanan hidup memang tidak bisa ditebak dengan detail, meski terkadang kita tahu ending result dari sebuah perjalanan. Dan, setiap detail yang ditemui, bagiku sendiri itulah adalah misteri yang harus dihadapi... kalau yang suka bertarung, bisa menganggap diri sebagai street figther, karena tak pernah tahu lawan di jalanan itu se”sakti” apa - hanya bisa mempersiapkan diri sebaik mungkin.

Susah, senang, kaya, miskin, dibanggakan, dijelekan, hanya beberapa warna yang memang selalu membayangi sebuah perjalanan. Tak heran jika wejangan seorang nenek yang telah melewati semua itu benar2 terdengar bijaksana di telinga krn dialah praktisi idolaku, meski dia telah tiada.

Suatu malam, perut lapar dan mata lelah setelah lembur yang cukup membuat stress membuatku memilih untuk berjalan kaki menyusuri alley di salah satu pojokan segitiga emas Jakarta, dan mampir sejenak guna memesan mie rebus dan teh hangat.

Cerita ringan dari sang penjual mie tentang berjuang utk survive di kota Jakarta membuat senyum simpul keluar dengan lega... ya, aku tak sendiri di dunia ini. Kemudian mampir pula seorang tuna wisma yang rajin menyapaku di pagi hari, mampir utk membeli es teh “si sri” idolanya. Senyumnya pun mekar sambil kembali nyapa “baru pulang mbak?” “Ya Pak, lembur saya”, jawabku enteng.

Cerita dari sebuah acara TV, kemudian mengalir kepada cerita sang tuna wisma, diteruskan tentang perjuangan dari kampung di Tegal hingga sampai ke Jakarta, dilanjutkan lagi cerita dimana dia melihatku hampir tiap hari pulang late nite dengan wajah lelah yg dipaksa tersenyum.... ah, semua itu hanyalah cara untuk survive, hanyalah ekspresi dari sebuah perjalanan. Itulah kesimpulan kami di malam itu.

Kehidupan (ku) memang penuh warna, dan memang lebih berwarna dari pelangi.....

Just enjoy.!.

-putu-

Sunday, January 31, 2010

Uniknya Kehidupan

Tanpa disadari kegemaran menilik kehidupan selalu terasah. Tanpa disadari juga hari begitu cepat berlalu hingga akhirnya 27 tahun sudah aku menjalani kehidupan di alam fana ini.

Unik, itulah kesanku dari dulu hingga kini. Seru, kesan selanjutnya. Memang unik, unik sekali kehidupan ini. Dimana sering membuat kelabakan juga dikala tak sanggup me-manage-nya.

Jadi teringat masa sekolah dulu, dimana berawal dari sebuah niat untuk bergabung dalam sebuah organisasi. Susah juga awalnya menemukan pilihan yang tepat. Sampai akhirnya pilihanpun ditemukan dan berujung pada banyaknya tawaran susulan untuk join group lainnya. Hal serupa terus berlangsung hingga aku menginjak bangku kuliah dan kantor dimana aku bekerja.

Tidak hanya waktu sekolah saja, urusan pekerjaan pun mirip bin serupa. Menemukan pekerjaan yg sesuai tidak mudah, namun ketika satu didapatkan, maka tawaran2 lainnya bertubi2 datang bak air bah yang membuat aku “tergoda” dan “melirik” serta harus memutar otak pintar-pintar.

Hal serupa juga terjadi pada tema kehidupan lainnya, dimana terlihat begitu susah mendapatkannya (menemukannya), namun ketika ditemukan satu yang cocok, maka spt ada sebuah komando... yang lainnyapun ikut2an menghampiri. Entah semua itu hanya kebetulan atau memang alam sudah mengaturnya demikian agar aku bisa lebih cerdas memandang sesuatu.

Hidup terkadang terlihat begitu menyenangkan meski terkadang teramat kejam, begitu pula sebaliknya. Meski demikian.... semuanya harus diselesaikan dengan cara2 yang terbaik, meski “terbaik” itu sendiri teramat sangat “relatif”.

Pertanyaan yg muncul selanjutnya: bgmn caranya untuk selalu “cerdas” dalam memandang kehidupan yang unik ini? Apakah cukup hanya dengan merenung dan melihat ke dalam, atau berserah dan pasrah.... atau tingkatkan kemampuan logika utk mencerna semua ini... atau tanggalkan segala logika yang hanya bersifat temporer itu... atau logika + hati + ... + ...


-Putu-

Friday, January 22, 2010

Benci.........!!!!

Satu kata yang sedang meledak-ledak di kepalaku adalah "benci....!!!"

Aku benci pada kehidupan ini, aku benci pada setiap pemikiran yang lewat di benak, aku benci pada manusia-manusia dalam kehidupanku, aku benci............ benci.........!!!!

Tapi, apakah aku boleh berteriak dan mengucapkan semua kalimat itu.?.

Tatkala pikiran benci menjelma dalam sebuah tindakan, alhasil tanganpun tak sadar nonjok setiap benda yang melintas di sekitarnya, ntah kaca, ntah tembok, ntah muka, ntah... ntah yang lainnya. Kakipun akan nyasar antah barantah nyeruduk kursi, pohon pisang, samsak, dan... dan yang lainnya.

Ketika kebencian berkutat dalam benak, badanpun akan merana sengsara, sakit... sakit sekali tubuh ini....

Then how?

Gunakan saja tangan dan kaki untuk nendang n nonjok rasa benci itu... biar nyasar pergi jauh... go to the hell !!!

salam benci.!. #_#

Wednesday, November 11, 2009

Tukang "ngalong"

"Suka ngalong", mungkin itulah sebutan sebagian besar masyarakat di gedung megah itu pada group dimana aku menghabiskan sebagian besar hari-hariku.

Minggu ini, otak lagi encer dan kerjaan semua sesuai target usai sebelum jam 7 malam (sebetulnya gara2 kesehatan kurang bersahabat, jadinya kerja otak makin cepat agar bisa pulang lebih cepat he he ehe). Dan setiap orang yang aku temui, entah di lift, entah di halte bus, entah di jalan, dan semuanya bertanya "kok tumben pulang cepet?"

Sempat heran.... tapi gak heran lagi akhirnya, secara tempatku emang termasuk kloter paling akhir yang suka absen di print finger itu (dan aku salah satunya yg suka absen on the last minute batas absen - 3:30 am). Kalau dikatakan kerjaan banyak, emang kagak ada matinya deh.... kalau dibilang lambat kerja, gak banget sie.... wong seharian semua sibuk muter kaki, muter otak, muter badan (mondar-mandir meeting maksudnya ^^)

But so far... kembali semboyan "work hard play hard" senantiasa mengilhami. Bolehlah kerja keras sampe pagi.... tapi pas lagi jamannya melupakan kerjaan, emang beneran lupa tuh, ampe keringetan terkotos-kotos juga udah gak inget kerjaan sama sekali (ketika jingkrak-jingkrak di gym maksudnya :D )

Semakin hari aku semakin merasa Jakarta semakin unik, dan ibuku pun udah terbiasa juga dengan kehidupan seperti ini (gak suka komplain lagi maksudnya), wong hidup di Bali juga sama aja. Ngalong along the day (6 x 18 jam). Gila juga kan.... jadi intinya business human = hotelier...... ^^

SO, just enjoi intinya.... kalo dipikirin berat entar malah tambah berat kehidupan... kalau semakin dinikmati semakin banyak hal bermanfaat bisa dilakuin... percaya aja deh...... he heheh hee...

Sunday, November 08, 2009

Ambisi Ambisius Prestigious Mampus!!

Berambisi boleh, tapi ada batasnya

Menjadi ambisius juga boleh, asal tahu batasnya

Hidup prestigious boleh sekali, asal tahu tempatnya

Mampus jangan sampai, kalau tahu cara menanganinya

Just enjoi!!!

Friday, October 30, 2009

Lika Liku, Suka Duka Interview – Polos!

Cepat sudah waktu berlalu.... tidak terasa hidupku penuh dengan interview. Dan setiap interview pasti ada suka duka senang seru lika liku.... dan cerita unik lainnya. Pertama kali interview kalau tidak salah adalah waktu.... hmmm.... jadi Ketua OSIS kali ya... sekitar 12 tahun silam. Kemudian dilanjutkan dengan interview-interview dengan level lebih “seram” dengan orang yang lebih “seram” dari level to level, SMA, Kuliah, part time, sampai akhirnya bekerja dan berbalik malah menginterview orang lain.

Setelah diamat-amati ternyata unik sekali proses interview itu. Sebagai pihak interviewee, aku bertemu banyak sekali karakter interviewer yang sangat amat beragam. Dari yang aneh ampe yang membuat aku terkagum-kagum, dari yang nyeleneh ampe yang bijaksana sekali.

Selaku interviewer, aku juga bertemu banyak sekali karakter interviewee. Dari yang kreatif ampe yang mati gaya, he he he. Dari yang pinter ngomong ampe yang gak bisa ngomong lagi. Dari yang sangat memukau ampe yang nyeleneh bin aneh. Wao wao wao..... just enjoi! (kalimat penutup selalu terulang)

Setiap posisi yang ditempati, entah selaku interviewee atau interviewer, satu hal yang akhirnya aku dapat adalah harus pintar menempatkan diri. That’s it.

Selaku orang yang diwawancarai hendaknya menghormati sang pewawancara dan tepat waktu, serta memberikan good impression at first sight, juga berbicara sesuai tema to the point (sesuai pesan ibuku bertahun-tahun silam). Polos, mungkin itu satu kata mujarab yang bisa diterapkan. Namun kita harus pintar menjadi “polos”. Polos dalam menjelaskan kemampuan diri sendiri, polos dalam berbicara, polos dalam berpendapat, dan polos dalam menerima saran serta kritik. Ternyata menjadi “polos” tidaklah mudah ^-^

Selaku tukang interview, kadang-kadang kaya tukang tenung dan psikolog. Secara dalam waktu singkat harus memahami isi kepala orang yg diwawancarai, padahal kita baru kenal mereka. Jadi disini seninya yang aku peroleh adalah kepintaran dalam bertanya adalah parameter yang sangat penting. Juga, keberanian dalam memutuskan menerima atau menolak semakin teruji disini.

Apapun yang sudah aku peroleh selama 14 tahun ini, hanya sepenggal dari pelajaran dari bongkahan besar pelajaran yang harus aku pelajari. Ternyata dunia itu beragam dan cepat sekali berubah, namun tetap disana ada sebuah titik yang selalu sama dari waktu ke waktu, “kepolosan”.

Be polos!! ^-^

Monday, October 26, 2009

More Than a Game

"Makan gaji buta di hari Senin...!!", itulah sebuah kalimat yang nyaris terucap di akhir jam kantor tiba. Bagaimana tidak makan gaji buta, wong setengah hari gak kreatif, mendem, ngantuk ampe mata susah dibuka, meski udah ditunjang pake Moccacino-nya Mas Dika. Kagak mempan Mas..... bisikku lirih, sambil mengusap-usap mata sambil checking blogs.

Ternyata salah satu sobat dunia maya meninggalkan sebuah komen di blog catatanku, dan merujuk ke link lain yang bercerita sama, Pesta Blogger. Tak menarik... kurang menarik pikirku, krn ada hal lain yang lebih memikat mataku, yaitu sebuah kalimat "More Than A Game" Wajib Ditonton Anak Bangsa!!!

Berusaha mencari info yang tidak membuahkan hasil dari para tetangga tentang kisah dalam film "More Than A Game", akhirnya akupun memutuskan untuk nomat alias nonton hemat di Grand Indonesia. Karena film itu hanya diputar di blitzmegaplex.

Sebelum jam kantor usai, short conversation di aulait cafe sambil ditemani secangkir Honey Coffee yang ternyata nikmat sekali berhasil membuat otakku bekerja dan bekerja lagi. Pembicaraan yang terlihat santai dengan tema serius membawa memoriku berkelana 1,5 tahun silam, ketika seseorang menantangku "Putu, if you could control all the entities, than u are the winner!". Till now I'm still looking for the meaning of that sentence, and I always have question "how to?" But both of us agreed that there must be a way to find the answer of the question. Thanks Mr.Goh :)

Experience is the best teacher stil be my slogan till now, dan hari ini aku belajar sesuatu mengenai tugas dan kewajiban serta pentingnya pengalaman yang membuat kalimat "makan gaji buta" terhapus dari pemikiranku. I got something today, n I've finished my target at last (before 5 o'clock). Then... cita-cita nomat pun terealisasi.

More Than A Game, memang pas banget aku rasa, dengan diriku sendiri. Not only for the basket ball, but for all things I've met in this life. Audio luas yang hanya dinikmati oleh 6-7 orang penonton tidak mengurangi kenikmatanku menikmati cerita dokumenter tentang club basket itu. So nice...!! kesan pertama dan terakhirku. Bagaimana suka duka hidup dalam berjuang di arena pertandingan, bagaimana menjadi pelatih dengan beban moral untuk mensukseskan anak-anak didik, bagaimana kerjasama menjadi modal yang tak bisa ditawar lagi.

Hidup dari kecil bersama teman dalam nuansa kompetisi memang memberi pelajaran dan warna tersendiri bagi hidupku. Fairness dan bertanggung jawab atas setiap keputusan yang diambil merupakan pola hidup yang harus selalu dipegang, krn itulah pelajaran yg aku terima sejak pertama kali mengenal pelajaran. Faced the broken dream and disappointment menjadi bunga-bunga yang membuatku merenung dan terus belajar tentang the meaning of my existances. Change the direction, itu pula hal yang membuat hati selalu dag dig dug... cause I've never know what's the next? Diremehkan, dipuji, diledekin, dicuekin, disayangi, semuanya adalah hal lumrah yang selalu datang kapan saja. Ketika mereka senang, mereka akan tersenyum dan menyanjung. Ketika mereka merasa kurang cocok, mereka akan mengkritik dan berbicara aneh-aneh. ya... itulah dunia yang harus aku hadapi, but never mind... it just a matter of life style. Dalam "More Than A Game" juga diceritakan hal serupa.

And.... do not forget the number 23 (my absence number in two eight he hehe e). It's the back number of James Lebron -- King James :)


-Putu-

Thursday, October 22, 2009

The One You Love – Glenn Frey

Judul itu adalah judul sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Glenn Frey. Sangat memorial lagu ini. Awalnya bukan karena liriknya, tapi karena musiknya, Indah sekali…. 3.5 thn yang lalu selalu menjadi teman tidurku, sometimes lagu ini mengalun dari sebuah cafĂ© ketika aku berjalan di depannya, di bawah pohon sakura. So nice….

Sempat aku kehilangan lagu ini, sampai akhirnya ada teman kantor memberikan koleksi lagu jazz, dan disanalah aku menemukannya kembali ^^

Berikut adalah liriknya, lumayan OK ::

I know you need a friend, someone you can talk to
Who will understand what you're going through
When it comes to love, there's no easy answer
Only you can say what you're gonna do
I heard you on the phone, you took his number
Said you weren't alone, but you'd call him soon
Isn't he the guy, the guy who left you cryin'?
Isn't he the one who made you blue?
When you remember those nights in his arms
You know you gotta make up your mind

Are you gonna stay with the one who loves you
Or are you goin' back to the one you love?
Someone's gonna cry when they know they've lost you
Someone's gonna thank the stars above

What you gonna say when he comes over?
There's no easy way to see this through
All the broken dreams, all the disappointment
Oh girl, what you gonna do?
Your heart keeps sayin' it's just not fair
But still you gotta make up your mind

Are you gonna stay with the one who loves you
Or are you goin' back to the one you love?
Someone's gonna cry when they know they've lost you
Someone's gonna thank the stars above


Malam ini di kantor yang masih tetep ruame, ketika otakku blentek karena error blm terpecahkan, kembali lagu itu berhasil menghibur dan merelekskan syarat otakku yang mulai njelimet.

Lagu itu selalu Indah bagiku, meski sometimes membangkitkan banyak cerita, entah cerita diri sendiri, orang lain, atau yang lainnya. But in the end…. lagu tetaplah merupakan salah satu karya terindah di dunia ini.

-Putu-

Monday, October 19, 2009

namanya Lucky "jazzy"

Pagi ini, ketika di kepala terngiang-ngiang sebuah lagu yang ber-genre jazz, aku hanya teringat pertama kali aku ngeh akan musik jazz, dan belajar mendengarkannya, serta belajar menyukainya.

Malam itu di salah satu pojok kota Jakarta terdengar suara musik mengalun. Indah setelah ditelaah, membuatku ngantuk... kesan pertamaku. Disanalah, di sebuah kos-kosan di daerah Jalan Jaksa sang seniman memutar musik kesukaannya, jazz.!.

Namanya Lucky, aku sering menyebutnya Lucky Bali atau Lucky Jazzy, karena dia besar di Bali dan mencintai musik Jazz. Entahlah nama sesungguhnya siapa, krn aku tak pernah bertanya.

Malam yang sepi dan sendiri, karena lingkungan sekitar yang tidak familiar dengan orang-orang di sekitarnya, membuat buku menjadi tempat pelarianku. Sampai akhirnya seseorang ngetok pintu and say "hi...", ya dialah Lucky, tetangga sebelah kamar yang kelaparan di tengah malam. Sebetulnya akupun lapar waktu itu. Sehingga pas sudah, malam perburuan kacang rebus dimulai. Dan saat itu kami pun sangat mencintai Jalan Jaksa. Karena di tengah malam masih banyak dagang makanan yang buka.... he he he

Sambil menikmati berbungkus-bungkus kacang rebus, kembali terdengar alunan musik lembut nan lambat, jazzy.... Diapun menjelaskan panjang lebar tentang musik jazz, dan akupun menyimaknya, meski aku masih tertatih-tatih memahaminya. Dia, seorang pemain drum untuk jazz, sering tampil juga di acara-acara TV. Gak heran koleksinya berjubel di kamar kecil itu. Mulai saat itulah aku belajar menikmati musik jazz, yang ternyata sangat indah. Thanks pal...!!

dimanakah sekarang Lucky... secara pindah kos ama sang ayah gak bilang-bilang....

goodluck aja deh... dimanapun berada.... n hv a great days...

-putu-

Friday, October 16, 2009

Dunia ini memang Kejam..!!!

“Dunia ini memang kejam..!!”, tanpa sengaja kalimat itu mengalir ketika dia keluar dari mobil mewahnya sore itu. Sempat beberapa wajah terlihat kaget dan tegang, namun mereka tidak berani berkomentar. Dia mungkin kesal dan sudah tidak “rela” lagi untuk menahan semuanya seorang diri. Memang dia orang yang sangat regar dan kuat serta sabar, namun ketika permainan sudah tidak “nyaman” lagi, semuanya menjadi buyar dan reduplah cahaya kesabaran di hatinya.

Ketika melirik diri sendiri, aku terdiam dan berpikir, akankah bolehkah aku mengucapkan hal serupa. Mengingat aku sudah melupakan, berusaha melupakan, tidak menganggap kejam semua hal yang terlihat kejam itu. Sebetulnya sah sah saja dan boleh boleh saja... tidak ada yang melarang.

Setiap detik dunia selalu menunjukkan kekejamannya, setiap detik pula dia selalu menunjukkan kasih sayangnya. Krn sebetulnya kejam dan sayang itu beda tipis. Hanya kita yang menerimanya saja yang bisa menilai, apakah hal itu kejam atau tanda sayang.

Be grateful for this life... even it’s not cool.!.

Thursday, October 15, 2009

Lunch “Power”

Lega rasanya…….. satu tugas tertuntaskan, yaitu ngurusin acara kumpul-kumpulnya anak-anak IKASTARA SCBD + BKPM + Pajak + Kuningan + Semanggi. Ngumpul terus……….. !!!

Dulu, memang jarang sekali kita bertatap muka, meski Gedung hanya dipisahkan oleh beberapa batang pohon dan sebuah pagar besi. Namun sekarang, pembatas-pembatas itu hendak dirubuhkan satu persatu, dan berhasil berhasil berhasil…. Makan siang bareng lintas Gedung. Menyenangkan sekali rasanya…. Cara baru guna menambah keakraban dan persaudaraan :)


Meski yang hadir hanya 12 orang dari puluhan yang ada, itu sudah lebih dari cukup. Mengingat mereka adalah orang-orang dengan jam terbang sangat padat dan selalu dibutuhkan sehingga tak sempat beranjak dari singgasana (lebay dikit… he he he ).
Yang hadir pun sangat beragam, mulai dari banker, ahli telekomunikasi, dan ahli perpajakan, juga dari angkatan 2, 3, 5, 8, 9, dan 11. Pastinya pembicaraan ngalor ngidul dengan tema dari A to Z. Maklumlah budaya tetep nempel….


Red Crispy, itulah nama sebuah restoran di sky dinning Semanggi yang kita paksa untuk buka lebih awal, karena kita booking-nya 20 kursi. Karena kelihaian sang negotiator, alhasil si pengelola resto nyerah juga, dan jadi deh kita makan siang private disana *_*

Menu makanannya cukup beragam, dan aku suka. Di Karawaci resto ini merupakan salah satu tempatku nongkrong, krn aku bisa beli nasi goreng uenak by request, dan Ma Cha tea nya OK juga.... Mostly makanannya western style, french fries nya enak, pakai tepung crispy, dan mereka semua pada pesen steak atau ayam goreng. Katanya sih enak...... ya gak bang ??

Namun yang seru dna unik kali ini adalah setiap kita bertanya, sang pelayan hanya punya satu kalimat jawaban ”sedang dibuat...”. Mbak, minumnya mana? ”sedang dibuat...” Mbak kok lama sekali ya?? ”sedang dibuat...” Mbak nasi gorengnya berapa lama lagi ya?? ”sedang dibuat...” Mbak tolong bon-nya ya.... ”sedang dibuat....”

Untung kita gak nanya toiletnya dimana? Kalao sedang dibuat juga gimana dong... masa semuanya ”sedang dibuat”. Lucu dan segar juga siang ini.... cukup ”powerful” breaking the iceberg.

** tugas lain masih menunggu, target awal November…. Puff… semangat!!!

-putu-

Friday, October 09, 2009

Friday Night

Hari Jumat yang sungguh "melelahkan", tapi karena semua target tertuntaskan, minimal bisa tersenyum lepas merayakan Friday Night :)

Awalnya berniat tuk merayakan Friday Night di tempat cuci, namun... mengingat udara yang kurang bersahabat, akhirnya niat itu pun masih ditimang dan ditimang. Di tengah masa menimang-nimang itu tiba-tiba ada "pluk" email masuk dari sobat di gedung sebelah, "woi........ entar malam pada dateng gak kondangan?" O iya, nyaris lupa kalo salah satu sobat merayakan resepsi pernikahan di Balai Sudirman. "Kalo kalian pada dateng aku juga ikutan," sahutku dengan cepat (via email).

Perjalanan menuju Balai Sudirman pun dilalui dengan perut lapar di tengah kemacetan, juga keinginan besar untuk menyaksikan acara Pedang Pora, acara favoritku kalo menghadiri resepsi ^^

Acara yang dipenuhi oleh bapak-bapak dari pangkat cleaning service sampai jendral itu terlihat begitu meriah dengan nuansa mawar dimana-mana. "wao... cantik juga, jadi inget waktu nikahannya Cici," gumamku. Tapi sayang sindrom kondangan muncul lagi, yaitu gak minat makan karena melihat banyak makanan yang tidak bisa dimakan. Alhasil hanya merogoh salad buah dan agar-agar, serta semangka, tentunya dengan berbekal air mineral. Lega rasanya... perut lapar sudah terganjal untuk sementara.

Berada di tengah bapak-bapak dengan bintang berderet di pundak, juga ibu-ibu dengan sasakan tinggi dan gaya berpakaian khas, aku memiliki perasaan tersendiri. Kalo boleh dibilang "lempeng-lempeng aja, nothing special". Terbersit dalam benak, kenapa seperti itu? Mungkin karena aku tidak mengenal mereka lagi, atau malah karena udah jenuh akan situasi kehidupan seperti itu. Meski sebetulnya aku selalu merindukan masa-masa dengan mereka yang sudah aku anggap orang tua sendiri.

Bersama para sobat SMA, aku bisa tertawa lepas dan rasa kangen pun tertumpahkan, secara sudah teramat cukup lama kami tidak hang out bareng. Maklum sekarang udah pada sibuk dengan urusan masing-masing.... (sok sibuk juga sih....... :p )

Selesai acara makan-memakan, salam-salaman, serta foto bersama, akhirnya jam pulangpun tiba dengan dilanjutkan mengunjungi rumah Pancoran... lega juga rumahnya, gede... tapi kasian kalau si kwat ngepelnya ampe gempor... :d
Perjalanan dari Balai Sudirman menuju Pancoran terasa seru juga ketika sang sopir adalah pengendara kendaraan baru di kota Jakarta. Ya gitu deh.... srut... eh salah salah, belok kiri woi... berenti berenti.... wao... tahan... dan kehebohan-kehebohna lainnya. Syukur slamat sampai tujuan :)

Ternyata, tidak hanya aku yang merasa kelaparan sepulang dari kondangan. Para sobat di sekitar pun berpikiran sama, jadi deh kita keluar kelayapan lagi nyari-nyari tempat makan. Dan............ mereka ngajak aku ke jalan Sabang. Wao......... asiknya...... secara aku udah kangen banget makan di jalan Sabang, nostalgia masa lalu he he he... Makanlah kami di resto itu, Lebanon & Arab Cafe. Pusing euy baca menunya... kagak bisa nyebutnye.. boso Arab wakeh tenan, malah kalo disebutin boso Inggrisnya si pelayan ora mudeng. Piye toh cah? Kalo gitu boso Indonesia aja deh mas, "saya pesan sop sayur tok ya mas, dan air mineral" jelasku secara singkat. Syukur dia paham #_@

Menu yang ada di cafe itu enak dan tidak terlalu mahal. Untuk satu porsi mixed vegetable soup seharga 18000, pastri isi keju (3 biji satu porsi) seharga 15000, air minum gak jauh-jauh amat ama cafe pinggir jalan di seberangnya yang dipenuhi pengamen itu. Roti Maryam alias roti jala, atau aku sering nyebutnya roti cane, lumayan uenak... tapi kok masih kalah ama Penang Bistro ya (menurut lidahku). Terus roti yang lainnya juga uenak... bahan dasarnya yang pas, juga sauce-nya.

Terlepas dari lepasnya semua rasa kangenku selama ini, entah terhadap jalan Sabang, makanan yang ada di sana, pada para sobat, aku - kami mendapat rejeki yang tiada tara, yang sudah dinanti-nantikan selama 5 tahun di keluarga kami, yaitu lahirnya keponakanku, keponakan perdana, cucu perdana, anak perdana di malam Kajeng Kliwon :) -- meski dengan cara sesar krn badannya kegedean. Thanks God for every single thing, I love You!

Have a nice Friday Night for the world.... :)

-Putu-